Sabtu, 20 Mei 2023

krisis

Caplan (1964) menggambarkan krisis sebagai suatu keadaan reaktif yang timbul sebagai respons terhadap peristiwa berbahaya yang mengancam tujuan atau nilai-nilai hidup yang penting bagi seseorang. Krisis ini ditandai dengan adanya disorganisasi dan disfungsi psikologis, serta upaya yang terus-menerus dilakukan untuk mengatasinya.

Ketika seseorang menghadapi peristiwa berbahaya yang tidak dapat diatasi dengan taktik pemecahan masalah yang biasa, periode disorganisasi akan terjadi. Selama periode ini, individu mungkin mengalami kebingungan, rasa takut, atau ketidakmampuan untuk berfungsi secara efektif. Reaksi psikologis yang umum termasuk cemas berlebihan, depresi, atau ketidakstabilan emosional.

Dalam usaha untuk mengatasi krisis, individu biasanya melakukan berbagai upaya, seperti mencari dukungan sosial, mencari informasi atau nasihat, atau mengubah strategi penyelesaian masalah. Namun, disfungsi psikologis yang dialami individu dapat menghambat kemampuan mereka untuk menyelesaikan krisis secara efektif. Hal ini dapat berdampak negatif pada kemampuan individu untuk memilih tindakan yang tepat dan efisien.

Setelah melewati periode disorganisasi, individu dapat mencapai reorganisasi dan keseimbangan kembali. Ini berarti individu berhasil menyesuaikan diri dengan situasi yang baru dan mendapatkan stabilitas psikologis yang lebih baik. Namun, penting untuk dicatat bahwa penyelesaian krisis tidak selalu berarti mencapai hasil yang optimal atau yang terbaik bagi individu atau keluarga. Beberapa kompromi mungkin harus dilakukan dalam proses penyelesaian krisis.

Istilah
Disorganisasi dan disfungsi psikologis merujuk pada kondisi-kondisi yang melibatkan ketidakberfungsian atau gangguan dalam fungsi-fungsi psikologis individu. Meskipun kedua istilah ini sering digunakan secara bersamaan, mereka memiliki perbedaan dalam arti dan penggunaan.

Disorganisasi psikologis merujuk pada ketidakberaturan, kekacauan, atau kurangnya organisasi dalam pemikiran, perilaku, atau fungsi mental seseorang. Ini dapat mencakup gangguan seperti skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan kepribadian, atau gangguan psikotik lainnya. Pada gangguan ini, individu mengalami kesulitan dalam memproses informasi, mempertahankan keteraturan pemikiran, mengendalikan emosi, atau berhubungan dengan realitas secara adekuat.

Disfungsi psikologis, di sisi lain, mengacu pada ketidakmampuan individu untuk berfungsi secara efektif dalam aspek-aspek kehidupan sehari-hari mereka. Ini bisa melibatkan kesulitan dalam mengelola emosi, menjaga hubungan interpersonal yang sehat, mengatasi stres, mengambil keputusan yang baik, atau menjalankan tugas-tugas sehari-hari. Beberapa contoh disfungsi psikologis termasuk gangguan kecemasan, depresi, gangguan makan, atau gangguan tidur.

Kedua kondisi ini dapat saling terkait dan seringkali memiliki faktor-faktor penyebab yang sama, seperti keturunan, lingkungan, atau kombinasi keduanya. Mereka juga dapat saling mempengaruhi, di mana disorganisasi psikologis dapat menyebabkan disfungsi dalam kehidupan sehari-hari individu, dan sebaliknya, disfungsi psikologis yang parah dapat memicu timbulnya gejala-gejala disorganisasi.

Peristiwa berbahaya dapat datang dalam bentuk:

Perubahan antarpribadi seperti kehilangan orang penting karena kematian atau perceraian. Mereka juga dapat berupa perubahan sosial, seperti hilangnya peran yang berarti karena pensiun. 

Perubahan lingkungan seperti pindah ke rumah baru atau menghadapi bencana alam. 

Perubahan fisiologis yang timbul dari penyakit, penuaan, atau kecacatan adalah jenis peristiwa berbahaya lainnya yang berpotensi menimbulkan krisis.

Dampak dari serangkaian peristiwa berbahaya cenderung bersifat kumulatif.

Dalam menghadapi peristiwa berbahaya  kebanyakan orang cenderung menerapkan pola yang cukup konsisten. Ini karena mereka berpegang teguh pada perilaku yang telah bekerja dengan baik untuk mereka di masa lalu. 

Beberapa individu dan keluarga dapat menggunakan spektrum perilaku koping yang luas, sementara yang lain membatasi diri mereka sendiri pada sedikit orang. 

Anggota kelompok terakhir lebih rentan terhadap krisis dan membutuhkan bantuan dari luar. 

Semua individu memiliki titik puncak di mana mereka menjadi tidak teratur dan tidak berfungsi karena situasi tertentu. Namun, ambang titik puncaknya sangat bervariasi.

Kegagalan solusi biasa mereka menyebabkan tekanan emosional yang cukup besar bagi orang-orang. Mereka kemudian mulai mengalami emosi ketakutan, dan kecemasan yang "luar biasa" 
Orang tidak dapat lagi melihat situasi berbahaya secara realistis; sebaliknya, mereka memperbesar detail dan dimensi situasi mereka. Emosi negatif mereka segera mengambil alih dan mengganggu hampir setiap aspek kehidupan mereka. Tak pelak, persepsi mereka tentang realitas berubah.

Dalam konseling krisis, seperti dalam kebanyakan bentuk psikoterapi, lebih berguna untuk mengeksplorasi proses mediasi yang berjalan daripada menetapkan kuota numerik untuk kejadian berbahaya. 

Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang berlaku, sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kronologi krisis

Ketika satu demi satu solusi gagal, tekanan emosional meningkat di dalam individu atau keluarga yang frustrasi. Saat pola ini muncul, orang ...